Selasa, Februari 17, 2009

Menang Tak Jadi Bintang, Kalah Jadi Kambing Hitam

“Lemahnya lini belakang Arema Malang adalah penyebab kekalahan mereka dari Persik Kediri dalam pertandingan home mereka,” ungkap Binder Singh, seorang komentator sepak bola, dalam acara live Indonesian Super League 2009 yang ditayangkan oleh ANTV, Minggu, 8 Februari 2009. Komentar ini dengan jelas menunjukkan bahwa seolah-olah kekalahan suatu tim sepak bola diakibatkan oleh kesalahan yang dilakukan lini belakang mereka. Apakah Anda setuju dengan pernyataan tersebut?
Lini belakang atau bisa disebut barisan pertahanan sebuah tim sepak bola adalah kumpulan pemain yang bertugas menghadang serangan-serangan tim lawan. Mereka harus selalu siaga dan tetap waspada setiap saat agar dapat mematahkan serangan-serangan lawan. Orang-orang yang mengisi posisi ini harus mempunyai daya konsentrasi yang tinggi. Kecepatan dan ketangkasan juga sangat diperlukan untuk menjadi lini belakang suatu tim sepak bola. Postur yang ideal, stamina yang kuat, dan semangat juang yang tinggi tak kalah pentingnya. Seorang pemain belakang harus mempunyai skill yang tinggi.
Tugas dan tanggung jawab lini belakang tim sepak bola sangatlah berat. Dalam waktu 90 menit plus tambahan waktu, mereka harus menjaga daerah pertahanan tim dari serangan lawan. Mereka harus bisa mematahkan serangan-serangan lawan. Tak hanya itu, mereka juga harus berkonsentrasi di daerah pertahanan jika tak mau daerah mereka diobrak-abrik lawan. Selain itu, mereka juga dituntut untuk bisa membantu penyerangan. Entah itu berupa umpan pada partner ataupun counter attack. Bahkan kalau bisa mereka juga ikut mencetak gol.
Namun, kerja keras mereka tak diimbangi dengan penghargaan yang mereka dapatkan. Setiap selesai suatu pertandingan, apa yang mereka dapatkan? Pujiankah? Bermacam-macam komentar terlontar kepada mereka. Saat tim mereka menang, mereka jarang mendapatkan pujian. Padahal mereka mempunyai andil yang besar bagi kemenangan tim. Sebaliknya, saat tim mereka kalah, merekalah yang menjadi bulan-bulanan berbagai pihak akibat kekalahan tersebut. Apakah kekalahan tersebut hanya karena kesalah mereka sendiri?
Padahal mereka telah berjuang mati-matian untuk menjaga daerah pertahanan tim. Mereka telah berusaha keras. Namun apa yang mereka dapatkan? Mereka seharusnya diberi motivasi agar mereka bisa lebih baik lagi dalam pertandingan selanjutnya. Saya akui, memang terkadang lini belakang membuat suatu kesalahan fatal yang mengakibatkan jaring gawang mereka tertembus si kulit bundar. Bagi saya hal itu wajar, semua orang pasti pernah mengalami naik turun dalam kehidupannya. Termasuk seorang pemain belakang tim sepak bola. Tak sepantasnya mereka mendapat julukan si kambing hitam saat tim mereka menderita kekalahan saat melihat kerja keras mereka dalam melaksanakan tugas.
Lini belakang tim sepak bola juga bisa menjadi sosok penentu kemenangan. Mereka bisa menjadi inspirator bagi partner mereka dalam bertanding. Bahkan mereka juga bisa mencetak gol. Lihat saja John Terry (Chelsea), Paolo Maldini (AC Milan), ataupun Fabio Cannavaro (Real Madrid). Mereka mempunyai andil yang besar dalam timnya. Namun, saat tim mereka menang, apakah nama mereka disebut-sebut dan dielu-elukan? Mereka terlupakan begitu saja.
Sungguh malang nasib lini belakang tim sepak bola, menang tak jadi bintang, kalah jadi kambing hitam. Itulah realita sepak bola yang ada. Orang begitu mudah mencari-cari kesalahan orang lain, tetapi terhadap kesalahannya sendiri mereka seolah tak mau tahu.


Oleh : Imam Mi’raj Suprayoga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar