Sabtu, Februari 13, 2010

KETIKA AKU SEDANG MARAH

Ketika aku sedang marah aku merasakan sesuatu yang menyakitkan berada dalam hatiku. Entah sesuatu itu berwujud seperti apa. Namun, rasanya benar-benar menyakitkan. Bahkan seluruh tubuh ini ikut merasakan dahsyatnya perasaan sakit ini. Lalu apakah yang bisa aku lakukan untuk menyembuhkan rasa yang tak pernah ku harapkan ada pada diriku ini? Sungguh suatu dilema besar dalam hidup, ketika aku sedang marah. Inginku luapkan rasa marah itu, rasanya sungguh tidak normatif. Meluapkan semua rasa marah ini sejadi-jadinya bukannya malah menambah keruh suasana yang ada? Tapi jika marahku ini hanya kusimpan dalam-dalam di hati, hal ini malah akan menjadi sutu bumerang yang siap menyerang kita apabila perasaan yang sama terus-menerus dipecahkan dengan cara menyimpannya di dalam hati tanpa ada suatu tindakan apapun. Bisa jadi, ini akan menyebabkan suatu koreng yang membusuk di dalam hati.

Lantas apa yang bisa aku perbuat ketika aku sedang marah? Ini merupakan sebuah pertanyaan besar yang sampai saat ini belum kutemukan jawabannya. Pernah aku mendengarnasihat dari seseorang, bahwa ketika kita sedang marah hendaknya kita jangan terpancing emosi untuk melakukan hal-hal yamg tidak pantas untuk dilakukan seperti misalnya memukul orang yang membuat kita marah, membanting barang di dekat kita, menangis keras-keras, dan hal negatif yang lain. Ketika kita marah hendaknya kita sabar. Apakah begitu? Ini nih yang sulit untuk di praktekkan. Bersabar ketika kita sedang dalam kondisi marah. Sabar merupakan suatu kata yang gampang untuk di ucapkan dan di ajarkan, namun sulit untuk mempraktekkan hal ini dalam kehidupan kita sehari-hari. Apakah sabar dalam konteks di atas sama dengan menahan amarah? Ataukah memendam amarah? Atau malah membuang marah? 

Jika sabar diartikan sebagai menahan amarah, apakah hal ini bisa dikatakan benar? Kalo menurutku sih, kalo sabar diartikan sebagai menahan amarah buaknlah suatu pernyataan yang tepat. Seperti aku katakan di atas, menahan amarah bukanlah suatu hal yang mengenakkan hati, tapi sebaliknya. Kita justru akan rugi atau mendapatkan efek negatif bila kita menahan marah kita. Lalu, jika sabar dikatakan sebagai memendam amarah bagaimana kebenarannya? Apalagi ini, sabar diartikan sebagai memendam amarah malah merupakan suatu pernyataan yang lebih tidak tepat lagi. Menahan marah saja nggak enak, apalagi memendamnya. Oh, berarti sabar bisa diartikan sebagai membuang amarah? Benarkah itu? Tunggu dulu, hal ini mungkin logis dipikiran kita jika sabar diartikan sebagai membuang rasa marah kita. Tapi, “membuang”disini tidak bisa sekadar diartikan sebagai membuang begitu saja, tetapi masih meninggalkan bekas di hati kita. Sabar harus diartikan sebagai membuang rasa marah dan diibaratkan sekalian dibakar saja perasaan marah tersebut sehingga tidak menimbulkan bekasnya. 

Memang keliatannya perfect sekali jika kita bersabar ketika kita sedang marah. Wah rasanya pengen banget aku bisa seperti itu. Kalo begitu, ayo berusaha untuk melakukan hal tersebut. Selain itu aku juga pernah mendengar nasehat yaitu apabila kita sedang marah kita hendaknya melakukan 3 hal, yaitu jika kita marah dalam keadaan berdiri maka duduklah, jika masih belum bisa reda maka berbaringlah, dan apabila masih belum reda juga maka berwudhulah. Karena pada hakikatnya ketika kita sedang marah berarti kita sedang dikuasai oleh setan. Maka dari itu kita hendaknya melakukan ketiga hal di atas ketika sedang marah untuk melepaskan diri dari genggaman setan. 

Memang benar nasihat di atas. Kita bisa mencoba nasihat di atas ketika marah. Karena itu merupakan nasihat dari Rasulullah Muhammad SAW. Mari berusaha bersama-sama.

GJ ( Gak Jelas)

10 Februari 2010

Hari ini seperti biasa kuawali hariku dengan olah raga pagi di alun-alun Kebumen tercinta. Memang benar kata orang-orang kalau kita rajin berolahraga pasti tubuh kita akan menjadi sehat. Hal ini kurasakan sendiri saat akhir-akhir ini aku rajin berolahraga pagi. Badan ini terasa lebih enak. Lebih ringan untuk beraktivitas seharian penuh. 

Namun hari ini ada satu peristiwa yang memberiku suatu pelajaran berharga. Suatu peristiwa yang tidak kuharapkan terjadi padaku. Kalau dari sudut pandangku, peristiwa ini disebabkan oleh salah seorang temanku yang berinisial F. Pagi ini setelah berolahraga, aku kedatangan temanku yang bernama F. Dia mengajakku untuk pergi ke SMA kami dulu, SMA N 1 Kebumen. Kutanyakann maksud dia mengajakku kesana untuk apa. Menurutku, jawabannya kurang menarik hatiku untuk memenuhi ajakannya. Dia mengatakan bahwa dulu pernah melihat kakak kelas yang sudah kuliah main ke SMA. Waktu itu kami berdua masih SMA. Saat itu kami bergumam, “Kapan ya kita bisa seperti mereka”. Wajar saja kami berucap begitu, karena saat itu kami belum juga mendapatkan tempat kuliah di saat teman-teman yang lain telah mendapatkannya.

Ternyata Fberbisik pada hatinya bahwa suatu saat ketika dia telah kuliah, dia akan main ke SMA untuk bernostalgia kenangan ini. Saat itu aku menolak ajakannya karena kami GJ (Gak Jelas) nantinya di SMA. Tapi Fmemiliki jurus rayuan yang begitu hebat sehingga bisa membalikkan hatiku untuk ikut main bersamanya ke SMA. 

Akhirnya aku, F, dan dua orang temanku yang lain si A dan I pergi bersama ke SMA. Dari awal keberangkatan sudah GJ, batinku dalam hati mengatakan bahwa nanti bakalan tambah GJ. Rencananya setelah main ke SMA kami akan Hot Spot-an dan dilanjutkan silaturahmi ke rumah salah seorang guru BK kami di SMA.

Benar, ternyata firasatku akhirnya terjadi juga. Seharian ini penuh dengan ke-GJ an. Betapa tidak, selama 12 jam kami menghabiskan waktu tanpa menghasilkan manfaat. Pertama, seperti tujuan awal kami pergi ke SMA. Disana hanya main ke Kantin untuk jajan. Kedua, kami pergi ke masjid agung Kebumen untuk sholat dhuhur, setelah sholat kami malah ngobrol-ngobrol GJ. Parahnya lagi si Fpergi gak jelas entah kemana dan aku, I, dan Amalah disuruh untuk menunggunya. Si Fpun tidak mengatakan dengan jelas kemana dia mau pergi dan untuk apa. Benar-benar GJ lah.

Kurang lebih setengah jam kami bertiga menunggu si Ftanpa suatu kejelasan. Dia sempat kembali menghampiri kami beberapa saat, tetapi kemudian dia kembali pergi dengan ketidakjelasan. Akhirnya rencana ketiga kami untuk Hot Spot-an pun gagal. Rencana keempat lebih GJ lagi, kami akhirnya pergi ke rumah guru BK kami untuk sekedar melepas rindu. Si Fkembali berulah, dia kabur lagi entah kemana. Yang ini lebih parah, kami bertiga ditinggal hampir satu setengah jam. Sampai akhirnya dia kembali, kami berempat ngobrol-ngobrol bareng pak guru sampai jam 23.00 WIB aku baru pulang ke rumah. Benar-benar hari yang GJ (Gak Jelas) bagiku.