Ketika aku sedang marah aku merasakan sesuatu yang menyakitkan berada dalam hatiku. Entah sesuatu itu berwujud seperti apa. Namun, rasanya benar-benar menyakitkan. Bahkan seluruh tubuh ini ikut merasakan dahsyatnya perasaan sakit ini. Lalu apakah yang bisa aku lakukan untuk menyembuhkan rasa yang tak pernah ku harapkan ada pada diriku ini? Sungguh suatu dilema besar dalam hidup, ketika aku sedang marah. Inginku luapkan rasa marah itu, rasanya sungguh tidak normatif. Meluapkan semua rasa marah ini sejadi-jadinya bukannya malah menambah keruh suasana yang ada? Tapi jika marahku ini hanya kusimpan dalam-dalam di hati, hal ini malah akan menjadi sutu bumerang yang siap menyerang kita apabila perasaan yang sama terus-menerus dipecahkan dengan cara menyimpannya di dalam hati tanpa ada suatu tindakan apapun. Bisa jadi, ini akan menyebabkan suatu koreng yang membusuk di dalam hati.
Lantas apa yang bisa aku perbuat ketika aku sedang marah? Ini merupakan sebuah pertanyaan besar yang sampai saat ini belum kutemukan jawabannya. Pernah aku mendengarnasihat dari seseorang, bahwa ketika kita sedang marah hendaknya kita jangan terpancing emosi untuk melakukan hal-hal yamg tidak pantas untuk dilakukan seperti misalnya memukul orang yang membuat kita marah, membanting barang di dekat kita, menangis keras-keras, dan hal negatif yang lain. Ketika kita marah hendaknya kita sabar. Apakah begitu? Ini nih yang sulit untuk di praktekkan. Bersabar ketika kita sedang dalam kondisi marah. Sabar merupakan suatu kata yang gampang untuk di ucapkan dan di ajarkan, namun sulit untuk mempraktekkan hal ini dalam kehidupan kita sehari-hari. Apakah sabar dalam konteks di atas sama dengan menahan amarah? Ataukah memendam amarah? Atau malah membuang marah?
Jika sabar diartikan sebagai menahan amarah, apakah hal ini bisa dikatakan benar? Kalo menurutku sih, kalo sabar diartikan sebagai menahan amarah buaknlah suatu pernyataan yang tepat. Seperti aku katakan di atas, menahan amarah bukanlah suatu hal yang mengenakkan hati, tapi sebaliknya. Kita justru akan rugi atau mendapatkan efek negatif bila kita menahan marah kita. Lalu, jika sabar dikatakan sebagai memendam amarah bagaimana kebenarannya? Apalagi ini, sabar diartikan sebagai memendam amarah malah merupakan suatu pernyataan yang lebih tidak tepat lagi. Menahan marah saja nggak enak, apalagi memendamnya. Oh, berarti sabar bisa diartikan sebagai membuang amarah? Benarkah itu? Tunggu dulu, hal ini mungkin logis dipikiran kita jika sabar diartikan sebagai membuang rasa marah kita. Tapi, “membuang”disini tidak bisa sekadar diartikan sebagai membuang begitu saja, tetapi masih meninggalkan bekas di hati kita. Sabar harus diartikan sebagai membuang rasa marah dan diibaratkan sekalian dibakar saja perasaan marah tersebut sehingga tidak menimbulkan bekasnya.
Memang keliatannya perfect sekali jika kita bersabar ketika kita sedang marah. Wah rasanya pengen banget aku bisa seperti itu. Kalo begitu, ayo berusaha untuk melakukan hal tersebut. Selain itu aku juga pernah mendengar nasehat yaitu apabila kita sedang marah kita hendaknya melakukan 3 hal, yaitu jika kita marah dalam keadaan berdiri maka duduklah, jika masih belum bisa reda maka berbaringlah, dan apabila masih belum reda juga maka berwudhulah. Karena pada hakikatnya ketika kita sedang marah berarti kita sedang dikuasai oleh setan. Maka dari itu kita hendaknya melakukan ketiga hal di atas ketika sedang marah untuk melepaskan diri dari genggaman setan.
Memang benar nasihat di atas. Kita bisa mencoba nasihat di atas ketika marah. Karena itu merupakan nasihat dari Rasulullah Muhammad SAW. Mari berusaha bersama-sama.


