Setiap manusia pasti memiliki nilai lebih dalam dirinya
Saya baru saja mendengarkan kembali audio CD rekaman seminar motivasi yang saya miliki. Ada satu topik menarik yang ada di dalam cd tersebut dan ingin saya angkat dalam posting kali ini yaitu mengenai nilai lebih (added value) dalam diri Anda.
Bicara soal nilai… ada sebuah ilustrasi menarik yang mungkin bisa memberikan gambaran tentang arti sebuah nilai dalam diri manusia.
Rekan-rekan, coba keluarkan uang kertas Anda yang nilainya 100 ribu rupiah (saya beri Anda waktu 2 menit untuk mengambilnya sekarang juga). Kemudian Anda remas uang tersebut hingga kusut dan injak-injak sekarang juga. Kalau perlu buat uang tersebut menjadi kotor (diinjak-injak di tanah).
Pertanyaan saya untuk Anda, berapakah nilai uang itu sekarang? MASIH TETAP 100 RIBU RUPIAH.
Nah, sekarang ambil uang kertas dengan nominal 1000 rupiah. Bersihkan uang tersebut, bisa Anda cuci atau sebagainya kemudian setrika biar rapi dan nampak baru. Kalau perlu Anda berikan pigura disana.
Pertanyaan saya untuk Anda, berapakah nilai uang yang bagus dan berada di pigura itu? MASIH TETAP 1000 RUPIAH.
Itulah gambaran nilai dalam diri seseorang. Masalahnya nilai diri yang Anda yakini sekarang yang mana? Apakah yang begitu bernilai ataukah yang tidak bernilai sama sekali?
Seringkali saudara-saudara kita yang hidup dalam keterpurukan ekonomi sebenarnya tidak lain karena mereka tidak menyadari bahwasanya mereka punya nilai lebih dalam diri mereka. Hanya saja mereka tidak mempercayai itu dan tidak berusaha menemukannya dan mengubahnya menjadi suatu daya dorong yang luar biasa. Akibatnya, untuk berubah terasa sangat sulit. Padahal untuk mendapatkan hasil yang berbeda, kita harus mau merubah cara kita bertindak, termasuk di dalamnya cara kita berpikir tentang siapa diri kita sebenarnya.
Biar lebih mudah memahaminya saya berikan kisah nyata tentang kawan saya, Adi Wardana. Kenapa saya memilih dia sebagai contoh? Karena Adi mampu menunjukkan perubahan drastis 180 derajat dalam hidupnya.
Kisah dimulai pada saat saya masih aktif menjalankan network marketing. Pada waktu itu, saya sudah memiliki beberapa leader di jaringan saya. Namun demikian, saya merasa masih memerlukan satu team leader lagi untuk mendongkrak omzet.
Sebelumnya saya teringat pesan dari upline, “Kalau mau mencari leader yang tangguh, jangan under estimate (memandang rendah) ataupun over estimate (memandang berlebihan) terhadap seseorang. Lakukan saja prosedurnya dan biarkan alam yang menyeleksi siapa yang pantas menjadi leader besar di grupmu. Karena pada dasarnya semua orang bisa menjadi top leader, hanya seberapa besar dia mau berubah itu yang akan menentukan.”
Entah kenapa tiba-tiba saya teringat pada sosok Adi Wardana. Dia adalah teman satu angkatan dan satu jurusan di kampus. Pada awal mulanya, Adi bukan siapa-siapa di kampus. Tidak banyak yang memperhatikannya. Bisa dikatakan kurang diperhitungkan di jajaran “elite kampus”. Namun saya melihat ada satu nilai lebih dalam dirinya yang mungkin tidak dia sadari. Dia adalah calon pemimpin besar.
Ketika saya mengajaknya bergabung menjadi team bisnis saya dan berubah, awalnya dia menolak. Namun karena saya ngotot dan sedikit memaksa, akhirnya bergabung juga entah kenapa. Mungkin salah satunya karena kasihan dengan saya, hahaha…
Setelah bergabung, saya kemudian berusaha memberikan edukasi tentang sistem bisnis yang lebih mendalam sekaligus upaya pengembangan diri yang mutlak harus dilakukan untuk menjadi sukses. Dalam hal ini metode yang saya gunakan adalah hanya menunjukkan jalan kepadanya. Selebihnya dia lah yang akan menentukan seberapa sukses dalam kehidupannya.
Dalam proses perubahan dan mengembangkan diri, saya berusaha meyakinkan Adi bahwa dia sebenarnya setiap manusia memiliki suatu nilai diri yang lebih dibandingkan orang lain. Kita hanya perlu menemukannya dan menjadikannya kekuatan untuk sukses.
Entah momen apa, saya kurang tahu yang jelas Adi sudah mulai menyadari bahwa benar adanya dia memiliki nilai lebih tersebut. Adi mulai yakin bahwa dia terlahir untuk menjadi pemimpin besar dan orang sukses. Dia sadar bahwa manusia diciptakan oleh Allah untuk menjadi khalifah (pemimpin) di muka bumi ini.
Akhirnya berangkat dari penemuan akan nilai lebih dalam dirinya (nilai sebagai seorang pemimpin besar), maka dia mulai menunjukkan eksistensinya. Bukan dengan kata-kata melainkan dengan tindakan nyata. Perlahan tapi pasti Adi mulai mengembangkan kepribadiannya menjadi sosok pemimpin. Mulai dari pola pikir, sikap, dll.
Awal mula berubah sikap dan penampilan, banyak teman-teman jurusan yang memandang aneh dan sebelah mata. Mungkin yang ada di hadapan mereka, Adi tetaplah Adi, bukan siapa-siapa. Namun di mata saya, Adi adalah bom waktu yang siap meledak. Ketika dia mulai menyadari nilai lebih yang ada di dalam dirinya, maka saat itu hitungan mundur dimulai.
Sebagai rekan tim bisnisnya, saya hanya bisa memberikan semangat untuk tetap konsisten dalam perubahannya. Jangan termakan omongan orang, karena justru di mata saya kini Adi lebih bernilai dari pada teman-teman saya yang kerjaannya hanya cangkruk tanpa memiliki visi masa depan yang jelas.
Apa yang terjadi? Tindakan berbicara lebih keras dari kata-kata. Grup yang dibina olehnya meledak ngga karuan. Jaringan bisnisnya tersebar begitu cepat dengan pertumbuhan omzet yang tidak bisa dibendung. Saya kaget. Karena leader-leader lain di grup bisnis saya yang sejak awal diprediksi menghasilkan omzet malah melempem. Justru Adi, new leader malah bisa menghasilkan banyak.
Adi berubah jauh. Yang sekarang bukanlah Adi yang dulu. Adi yang sekarang lebih disegani dan dihormati. Bahkan dia pernah akan dinominasikan sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa di jurusan kami. Adi sudah menemukan bahwa dirinya adalah berlian yang tertanam dan tertutup oleh debu. Hanya dibutuhkan beberapa upaya untuk membersihkan dan menjadikannya cemerlang kembali dan memiliki harga jual yang tinggi.
Sekarang, Adi juga menekuni profesi yang sama dengan saya, terjun di bisnis online. Dan saya dengar penghasilannya bahkan melebihi penghasilan saya. Salut untuk dia!
Sesungguhnya, Allah menciptakan manusia dalam kesempurnaan. Mungkin ada sebagian yang merasa kurang dari segi fisik. Namun percayalah, selalu ada nilai lebih yang diberikan Allah kepada kita. Tertanam jauh di dalam diri kita sejak kita lahir. Berusahalah untuk menyadari dan menemukannya.
Nah, rekan-rekan… coba pikirkan dan renungkan kembali. Kira-kira seberapa bernilai diri Anda. Sudahkah Anda memandang diri Anda sebagai sosok yang berharga dan layak menerima penghargaan?
Saya persilahkan kepada rekan-rekan yang ingin berbagi dan sharing bagaimana Anda menemukan nilai lebih dalam diri Anda dan menjadikan sebagai bahan bakar untuk yang berujung pada perubahan luar biasa dalam hidup Anda, sebagaimana kawan saya ADI WARDANA.
Salam Sukses,
Saya baru saja mendengarkan kembali audio CD rekaman seminar motivasi yang saya miliki. Ada satu topik menarik yang ada di dalam cd tersebut dan ingin saya angkat dalam posting kali ini yaitu mengenai nilai lebih (added value) dalam diri Anda.
Bicara soal nilai… ada sebuah ilustrasi menarik yang mungkin bisa memberikan gambaran tentang arti sebuah nilai dalam diri manusia.
Rekan-rekan, coba keluarkan uang kertas Anda yang nilainya 100 ribu rupiah (saya beri Anda waktu 2 menit untuk mengambilnya sekarang juga). Kemudian Anda remas uang tersebut hingga kusut dan injak-injak sekarang juga. Kalau perlu buat uang tersebut menjadi kotor (diinjak-injak di tanah).
Pertanyaan saya untuk Anda, berapakah nilai uang itu sekarang? MASIH TETAP 100 RIBU RUPIAH.
Nah, sekarang ambil uang kertas dengan nominal 1000 rupiah. Bersihkan uang tersebut, bisa Anda cuci atau sebagainya kemudian setrika biar rapi dan nampak baru. Kalau perlu Anda berikan pigura disana.
Pertanyaan saya untuk Anda, berapakah nilai uang yang bagus dan berada di pigura itu? MASIH TETAP 1000 RUPIAH.
Itulah gambaran nilai dalam diri seseorang. Masalahnya nilai diri yang Anda yakini sekarang yang mana? Apakah yang begitu bernilai ataukah yang tidak bernilai sama sekali?
Seringkali saudara-saudara kita yang hidup dalam keterpurukan ekonomi sebenarnya tidak lain karena mereka tidak menyadari bahwasanya mereka punya nilai lebih dalam diri mereka. Hanya saja mereka tidak mempercayai itu dan tidak berusaha menemukannya dan mengubahnya menjadi suatu daya dorong yang luar biasa. Akibatnya, untuk berubah terasa sangat sulit. Padahal untuk mendapatkan hasil yang berbeda, kita harus mau merubah cara kita bertindak, termasuk di dalamnya cara kita berpikir tentang siapa diri kita sebenarnya.
Biar lebih mudah memahaminya saya berikan kisah nyata tentang kawan saya, Adi Wardana. Kenapa saya memilih dia sebagai contoh? Karena Adi mampu menunjukkan perubahan drastis 180 derajat dalam hidupnya.
Kisah dimulai pada saat saya masih aktif menjalankan network marketing. Pada waktu itu, saya sudah memiliki beberapa leader di jaringan saya. Namun demikian, saya merasa masih memerlukan satu team leader lagi untuk mendongkrak omzet.
Sebelumnya saya teringat pesan dari upline, “Kalau mau mencari leader yang tangguh, jangan under estimate (memandang rendah) ataupun over estimate (memandang berlebihan) terhadap seseorang. Lakukan saja prosedurnya dan biarkan alam yang menyeleksi siapa yang pantas menjadi leader besar di grupmu. Karena pada dasarnya semua orang bisa menjadi top leader, hanya seberapa besar dia mau berubah itu yang akan menentukan.”
Entah kenapa tiba-tiba saya teringat pada sosok Adi Wardana. Dia adalah teman satu angkatan dan satu jurusan di kampus. Pada awal mulanya, Adi bukan siapa-siapa di kampus. Tidak banyak yang memperhatikannya. Bisa dikatakan kurang diperhitungkan di jajaran “elite kampus”. Namun saya melihat ada satu nilai lebih dalam dirinya yang mungkin tidak dia sadari. Dia adalah calon pemimpin besar.
Ketika saya mengajaknya bergabung menjadi team bisnis saya dan berubah, awalnya dia menolak. Namun karena saya ngotot dan sedikit memaksa, akhirnya bergabung juga entah kenapa. Mungkin salah satunya karena kasihan dengan saya, hahaha…
Setelah bergabung, saya kemudian berusaha memberikan edukasi tentang sistem bisnis yang lebih mendalam sekaligus upaya pengembangan diri yang mutlak harus dilakukan untuk menjadi sukses. Dalam hal ini metode yang saya gunakan adalah hanya menunjukkan jalan kepadanya. Selebihnya dia lah yang akan menentukan seberapa sukses dalam kehidupannya.
Dalam proses perubahan dan mengembangkan diri, saya berusaha meyakinkan Adi bahwa dia sebenarnya setiap manusia memiliki suatu nilai diri yang lebih dibandingkan orang lain. Kita hanya perlu menemukannya dan menjadikannya kekuatan untuk sukses.
Entah momen apa, saya kurang tahu yang jelas Adi sudah mulai menyadari bahwa benar adanya dia memiliki nilai lebih tersebut. Adi mulai yakin bahwa dia terlahir untuk menjadi pemimpin besar dan orang sukses. Dia sadar bahwa manusia diciptakan oleh Allah untuk menjadi khalifah (pemimpin) di muka bumi ini.
Akhirnya berangkat dari penemuan akan nilai lebih dalam dirinya (nilai sebagai seorang pemimpin besar), maka dia mulai menunjukkan eksistensinya. Bukan dengan kata-kata melainkan dengan tindakan nyata. Perlahan tapi pasti Adi mulai mengembangkan kepribadiannya menjadi sosok pemimpin. Mulai dari pola pikir, sikap, dll.
Awal mula berubah sikap dan penampilan, banyak teman-teman jurusan yang memandang aneh dan sebelah mata. Mungkin yang ada di hadapan mereka, Adi tetaplah Adi, bukan siapa-siapa. Namun di mata saya, Adi adalah bom waktu yang siap meledak. Ketika dia mulai menyadari nilai lebih yang ada di dalam dirinya, maka saat itu hitungan mundur dimulai.
Sebagai rekan tim bisnisnya, saya hanya bisa memberikan semangat untuk tetap konsisten dalam perubahannya. Jangan termakan omongan orang, karena justru di mata saya kini Adi lebih bernilai dari pada teman-teman saya yang kerjaannya hanya cangkruk tanpa memiliki visi masa depan yang jelas.
Apa yang terjadi? Tindakan berbicara lebih keras dari kata-kata. Grup yang dibina olehnya meledak ngga karuan. Jaringan bisnisnya tersebar begitu cepat dengan pertumbuhan omzet yang tidak bisa dibendung. Saya kaget. Karena leader-leader lain di grup bisnis saya yang sejak awal diprediksi menghasilkan omzet malah melempem. Justru Adi, new leader malah bisa menghasilkan banyak.
Adi berubah jauh. Yang sekarang bukanlah Adi yang dulu. Adi yang sekarang lebih disegani dan dihormati. Bahkan dia pernah akan dinominasikan sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa di jurusan kami. Adi sudah menemukan bahwa dirinya adalah berlian yang tertanam dan tertutup oleh debu. Hanya dibutuhkan beberapa upaya untuk membersihkan dan menjadikannya cemerlang kembali dan memiliki harga jual yang tinggi.
Sekarang, Adi juga menekuni profesi yang sama dengan saya, terjun di bisnis online. Dan saya dengar penghasilannya bahkan melebihi penghasilan saya. Salut untuk dia!
Sesungguhnya, Allah menciptakan manusia dalam kesempurnaan. Mungkin ada sebagian yang merasa kurang dari segi fisik. Namun percayalah, selalu ada nilai lebih yang diberikan Allah kepada kita. Tertanam jauh di dalam diri kita sejak kita lahir. Berusahalah untuk menyadari dan menemukannya.
Nah, rekan-rekan… coba pikirkan dan renungkan kembali. Kira-kira seberapa bernilai diri Anda. Sudahkah Anda memandang diri Anda sebagai sosok yang berharga dan layak menerima penghargaan?
Saya persilahkan kepada rekan-rekan yang ingin berbagi dan sharing bagaimana Anda menemukan nilai lebih dalam diri Anda dan menjadikan sebagai bahan bakar untuk yang berujung pada perubahan luar biasa dalam hidup Anda, sebagaimana kawan saya ADI WARDANA.
Salam Sukses,


